Ad Code

Responsive Advertisement

JAMARAT (Lanjutan dari "Artikel Haji" sebelumnya)



Kata Jamarat adalah bentuk jamak (plural) dari kata Jumrah yang berati Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta, dan Jumrah Ula. Kata Jumrah berarti kumpulan batu-batu kecil, namun kata ini akhirnya menjadi nama lokasi yang dilempari batu kerikil oleh para jamaah haji saat mereka berada di Mina. 


Jumrah Aqabah disebut juga Jumrah Kubro yaitu Jumrah yang paling dekat dengan Makkah, sekaligus sebagai batas antara Makkah dan Mina. Pada tanggal 10 Dzul Hijjah setiap jamaah haji harus melempari Jumrah ini tujuh kali lemparan, yaitu setelah mereka melakukan wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah. Kemudian pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah, mereka melempari Jumrah ini lagi setelah mereka melempari Jumrah Ula dan Jumrah Wusta secara berurutan.

Jadi pada tanggal 10 Dzul Hijjah para jamaah haji hanya melempar satu Jumrah saja, yaitu Jumrah Aqabah. Sedangkan pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah mereka melempar tiga Jumrah yang dimulai dari Jumrah Ula, kemudian Jumrah Wusta, dan diakhiri Jumrah Aqabah.

Adapun masa atau waktu melempar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzul Hijjah dimulai dari setelah tengah malam dan batas terakhirnya sampai matahari tenggelam tanggal 10 Dzul Hijjah. Sedangkan waktu yang disunnahkan adalah setelah matahari terbit sampai tergelincirnya matahari (tengah hari) tanggal 10 Dzul Hijjah.

Masa atau waktu untuk melempar 3 Jumrah pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah, dimulai dari waktu tergelincirnya matahari sampai pada pertengahan malam pada setiap hari tersebut, tetapi waktu yang disunnahkan adalah mulai dari tergelincirnya matahari sampai matahari tenggelam. Sebagian ulama membolehkan melempar 3 Jumrah ini mulai setelah matahari terbit.   

Setiap Jumrah ditandai dengan pilar dibikin dari tembok batu yang dikelilingi oleh tembok setinggi satu meter berbentuk lingkaran.  Tembok batu ini dulunya dibuat untuk pembatas dan menampung batu yang dilempar oleh jamaah haji.

Jarak antara Jumrah Aqabah dengan Jumrah Wusta = 117 meter dan antara Jumrah Wusta dengan Jumrah Ula = 156 meter.

Sebagian orang mengira bahwa pilar-pilar itu melambangkan Iblis atau Iblis ada di dalam pilar itu, sehingga dengan penuh emosi mereka melempari pilar itu sambil mengumpat dan memendam geram, bahkan kadang menantang-nantang atau melempar pilar itu dengan batu besar, tongkat, atau apa saja yang mereka temukan disekitarnya dengan sangkaan Iblis dapat merasakan sakit oleh lemparannya. Hal ini adalah salah besar  dan bukan ajaran Islam dan malah para Iblis itu tertawa terbahak-bahakmelihat kebodohan sebagian ummat yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Amalan melempar Jumrah ini adalah untuk menunjukkan bakti dan ketundukan hamba kepada perintah Tuhannya tanpa harus tahu arti dan maksud serta hikmah lahiriah amalan itu. Sehingga dengan melihat kepatuhan ini Iblis malah menangis dan kesakitan.

Pada masa tahun 1975 M, tempat melempar Jumrah ini dibangun seperti jembatan layang agar sebagian jamaah dapat melempar dari atas untuk mengurangi kepadatan di lokasi aslinya yang sudah tidak bias menampung seluruh jamaah haji.

Asal mula amalan melempar Jumrah ini adalah ketika Nabi Ibrahim selesai membangun Ka’bah datanglah Malaikat Jibril mengajari cara-cara Thawaf, kemudian mengajaknya ke Mina dan setelah sampai di Aqabah muncul Iblis mengganggu. Kemudian Jibril memungut 7 butir diberikan Ibrahim, lalu memungut lagi 7 butir dan memerintah Ibrahim, “Lemparlah dan bacalah takbir”. Kedua-duanya melempar sambil membaca takbir, dan larilah Iblis. Begitu juga yang terjadi di Ula dan Wusta. Setelah itu Nabi Ibrahim mengajari kaumnya cara-cara berhaji dan turun temurun sampai zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi Muhammad SAW mengajari ummatnya dengan cara memberi contoh dan langsung melakukan sendiri bersama-sama ummat pada saat itu dan bersabda, “Lakukanlah amalan-amalan haji seperti yang aku lakukan”.

Jadi amalan melempar Jumrah ini semata-mata hanya menunjukkan kepatuhan dan ketaatan seorang kepada aturan agamanya.

 ICMI Daker Madinah


Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement